Selasa, 08 Maret 2011

:: Memohon kekuatan DZIKIR, Syukur dan IBADAH :: by: Nisa Saihat

اللهم أعني على ذكرك وشكرك، وحسن عبادتك
“Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika’"

Artinya: " Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu dan bersyukur kepada-Mu, serta agar bisa beribadah dengan baik kepada-Mu"

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Mu’adz, “Demi Allah, aku benar-benar mencintaimu. Maka janganlah kamu lupa untuk membaca doa di setiap akhir shalat: ‘Allahumma a’innii ‘ala dzikrika wa syukrika, wa husni ‘ibaadatik.’ (Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu dan bersyukur kepada-Mu, serta agar bisa beribadah dengan baik kepada-Mu).” (HR. An Nasa’i [1303]  dan Ahmad [21614]  Sahih Sunan Abu Dawud. )

Ooo
Sesungguhnya Allah SWT telah mengkaruniai kita dengan berbagai nikmat yang dengannya kita dapat hidup (hayah) dan mendapat hidaYAH .  Dan seandainya kita sudi menghitung-hitungya, pasti tidak akan terhitung . Firman Allah: “Jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak dapat menghitung jumlahnya.” (QS.An-Nahl :18 dan QS.Ibrahim : 34)

Diatas hamparan karunia nikmat Allah itu, maka selayaknya kita berterimakasih kepada Sang Pemberi Nikmat.  Walaupun ungkapan rasa terimakasih kita kepadaNya, dengan gaya dan daya apapun,  sebenarnya tidak akan sanggup membalas nikmat yang diberikan.  Berkata Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata Nabiyullah Daud ‘Alaihis Salam: “Wahai Rabbku, kalau seandainya setiap rambutku ini mempunyai dua lidah dan bertasbih kepadaMu sepanjang malam, siang dan masa, maka tidaklah memenuhi hak satu kenikmatan.” (‘Iddatu Ash-Shabirin Libnil Qayyim hal 206, Asy-Syukur Libnu Abi Dunya hal 25, Asy-Syu’ab Lilbaihaqi dishahihkan Syaikh Salim I’ed Al-Hilali wafaqahullah)

Allah SWT juga berfirman: Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan’" [ Yunus : 58]

Ungkapan terimakasih itulah yang disebut dengan istilah SYUKUR. Firman Allah Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”(QS Ibrahim ayat 7). Dengan bersyukur,  Allah jamin dengan tambahan nikmat dariNya.

Ibnul Qayyim menjelaskan: “Syukur itu bisa dilakukan oleh HATI dengan tunduk dan kepasrahan oleh LISAN dengan mengakui ni’mat tersebut dan oleh ANGGOTA BADAN dgn ketaatan dan penerimaan.” 

:: BERSYUKUR DENGAN HATI ::

Suasana jiwa orang yang bersyukur adalah suasana jiwa yang senang dan gembira. Gembira menerima nikmat Allah yang denganya ia mampu menjalani hidup dan menempuhi hidayah. Dia meyakini bahwa nikmat ini adalah mutlak pemberian dari Allah SWT, walaupun dihantarkan melalui makhluqNya.

I’tiraf (pengakuan) kepada Allah sebagai Pemberi nikmat dan Busyrah (bergembira) ini adalah dua cara BERSYUKUR  (berterimakasih) KEPADA  ALLAH dengan Hati.

[=] I’tiraf (pengakuan)  [=]  Lihatlah Baginda Nabi Sulaeman disaat mencapai kenikmatan besar berupa kekayaan melimpah dan Kerajaan yang kuat. Nabiyullah Sulaeman tidak mengklaim bahwa ini adalah semata hasil karya dirinya . tetapi Nabi Sulaiman a.s. berkata,“Ini adalah bagian dari karunia Allah, untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau kufur.” (An-Naml: 40). Inilah contoh hamba Allah yang pandai bersyukur.

Sebaliknya, Qarun  adalah contoh orang yang kufur nukmat, Ketika Qarun mendapatkan harta yang sangat banyak, dia mengatakan, “Sesungguhnya harta kekayaan ini, tidak lain kecuali dari hasil kehebatan ilmuku.” (Al-Qashash: 78).

[=] Busyrah (bergembira) [=] Allah SWT berfirman: Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan’" [ Yunus : 58]

Sungguh Syukur itu menghadirkan jiwa yang gembira, senang dan optimis. Sebaliknya orang yang kufur nikmat itu menghadirkan jiwa yang kurang bergembira, sedih dongkol dan lain lain. Sehingga orang yang pandai bersyukur itu, jika diberi musibah bukannya larut dalam kesedihan yang panjang, tetapi ia bersabar yang melahirkan keteguhan dan memohon tolong kepada Allah.

Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-NYAlah kamu meminta pertolongan."( QS. An-Nahl (16) : 53 )

Termasuk kurang pandai bersyukur, jika ketika mendapat nikmat ia merasa dimulyakan (bergembira) dan jika mendapat musibah ia merasa dihinakan (sedih). “Adapun manusia, apabila Rabbnya menimpakan ujian kepadanya dengan memuliakan dan mencurahkan nikmat kepadanya maka dia mengatakan, ‘Rabbku telah memuliakanku’. Dan apabila Dia mengujinya dengan membatasi rezkinya niscaya dia akan mengatakan, ‘Rabbku telah menghinakanku’. Sekali-kali bukan demikian…” (QS. al-Fajr :15-17)

Bersyukur dengan hati ini adalah hakikat daripada syukur itu sendiri.


:: BERSYUKUR DENGAN LISAN. ::

Setelah dalam jiwa selalu ada pengakuan akan kebesaran dan kemurahan Allah SWT yang telah memberi nikmat disertai rasa gembira dan senang hati, giliran ekspresi lisan. Ekspresi tulus dari seorang hamba karena luapan kegembiraan yang didasari pengakuan dari makrifatnya.

Ekspresi lisan adalah memuji dan mengucapkan Al-Hamdulillah. Dari Abu Umamah Al-Bahili Radhiallohu ‘anhu, berkata Rasululloh Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Allah Subhanahu Wata’ala tidak memberikan suatu kenikmatan kepada seorang hamba, maka dia memuji Allah atas kenikmatan yang diberikan kepadanya kecuali pujian itu lebih afdhal daripada kenikmatan itu.” (Dihasankan Syaikh Albani di Ash-Shohih Al-Jami’ no.  5562)

Allah berfirman : Dan terhadap nikmat Tuhanmu, Maka hendaklah kamu ceritakan”  (Ad-Duhaa: 11)

Bersyukur dengan lisan berarti juga berdzikir (mengingat Allah), dan kita memohon agar diberi kekuatan untuk berdzikir. Firman Allah SWT:  “Ingatlah kepada-Ku, Aku juga akan ingat kepada kalian. Dan bersyukurlah kepada-Ku, janganlah kalian kufur.” (Qs. Al Baqarah [2]: 152)


:: BERSYUKUR DENGAN TINDAKAN ::

Belum dianggap bersyukur (berterimakasih) kepada Allah SWT jika belum diungkapkan dengan tindakan atau perbuatan yang sesuai dengan kehendak si Pemberi nikmat. Tindakan tersebut adalah Ibadah. Allah tidak menciptakan kita melainkan agar kita mengabdi / ibadah kepada Allah (QS 51/56), oleh karena itu, Allah juga memberi karunia nikmat agar dengan nikmat itu manusia mampu dan sanggup menunaikan pengabdian / Ibadah kepadaNya

Allah menyebutkan bahwa para nabi adalah hamba-hamba Allah yang paling bersyukur dengan melaksanakan puncak ketaatan dan pengorbanan. Dan contoh-contoh tersebut sangat tampak pada lima rasul utama: Nabi Nuh a.s., Nabi Ibrahim a.s., Nabi Musa a.s., Nabi Isa a.s., dan Nabi Muhammad saw. Allah swt. menyebutkan tentang Nuh a.s. “Sesungguhnya dia (Nuh a.s.) adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” (Al-Israa: 3)

Dan lihatlah bagaimana Aisyah r.a. menceritakan tentang pengabdian / ibadah Rasulullah saw. Suatu saat Rasulullah saw. melakukan shalat malam sehingga kakinya terpecah-pecah. Berkata Aisyah r.a., ”Engkau melakukan ini, padahal Allah telah mengampuni dosa yang lalu dan yang akan datang.” Berkata Rasulullah saw., “Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur?“ (Muslim)

Ooo

Mohonlah kepada Allah agar diberi kekuatan untuk berdzikir, bersyukur dan baiknya beribadah.

semoga bermanfaat
09 Maret 2011, Lembah Biru

Nisa Saihat

3 komentar:

  1. Alhamdulillah, saya menemukan posting yg sangat mencerahkan ini.
    Terima kasih, semoga Allah memberikan ganjaran yg setimpal. Amiinn ...

    BalasHapus
  2. alhamdulillah sudah di share nih, terimakasih ya^^ www.fikrias.com

    BalasHapus
  3. subhanallah..
    doa yang diajarkan oleh ibundaku tercinta, yang telah merubah cara pandangku..

    BalasHapus